Cerita Tentang Pesugihan Buto Ijo




Ini adalah sedikit kisah tentang makhluk ghaib buto ijo yang sering dijadikan sebagai sekutu untuk mencari kekayaan dengan jalur pesugihan. Menurut pengertian-nya, buto ijo adalah makhluk halus yang dimintai bantuan oleh manusia dengan jalan pesugihan dan memberikan sesaji kepada mereka sehingga mereka mau membantu upaya manusia dalam mengumpulkan harta kekayaan.

Pesugihan buto ijo adalah termasuk pesugihan hitam yang mengharuskan adanya tumbal berupa korban nyawa manusia yaitu kerabat dekat dari keluarga orang yang memelihara pesugihan tersebut. Pesugihan buto ijo sangat bertolak belakang dengan ilmu pesugihan putih yang telah kita bahas pada artikel terdahulu. Memelihara buto ijo menjadikan manusia menjadi beringas dan tidak pandang bulu dalam mencari harta kekayaan, sehinga tidak mempedulikan efek buruknya sehingga sering mengorbankan nyawa manusia lain demi kepentingannya.

Sedikit cerita tentang buto ijo adalah ketika penulis blog tersakti berkunjung kerumah seorang teman di daerah Sureng Tepus, Gunungkidul. Ketika penulis kesana, didesa tersebut baru saja melakukan penggerebekan terhadap salah satu warga yang dituduh memelihara buto ijo.

Menurut keterangan seorang teman, sudah banyak kali terjadi kecelakaan ganjil yang menyebabkan kematian. Misalnya orang yang ditabrak truk karena tidur berselimut karung ditengah jalan, orang yang menderita sakit aneh, dan kasus lainnya yang setelah di konsultasikan dengan orang pintar hal tersebut terjadi karena buto ijo yang terus meminta tumbal.

Menurut keterangan teman tersebut, sarang buto ijo adalah di pohon pace besar disebuah ladang. Katanya disana buto ijo sudah beranak-pinak, sehingga sering kali mencari mangsa. Waktu itu sudah dilakukan ritual orang orang pintar untuk mengusir atau memindahkan buto ijo tersebut dari desa itu, hanya saja ada satu buto ijo yang diduga adalah yang paling tua tidak mau pergi dari pohon pace tersebut. Hingga kini masyarakat masih terus berhati-hati terhadap segala hal yang berbau ghaib di desa mereka.





loading...

0 comments:

Post a Comment