Makna di Balik Tradisi Lampah Bisu Mubeng Beteng Kraton




Masyarakat Yogyakarta terbiasa dengan ritual mengelilingi benteng keraton setiap tanggal 1 Suro. Arak-arakan ini selalu diikuti oleh ribuan orang dan dilakukan dalam diam, tanpa pembicaraan, makan, minum, bahkan merokok. Tradisi ini dikenal sebagai “lampah bisu mubeng beteng”, alias berjalan dalam diam mengelilingi benteng.

Pada awalnya, tradisi “mubeng beteng” ini merupakan warisan zaman Mataram Hindu pada abad 6 Masehi. Ritual asli Jawa ini disebut “muser” atau “munjer”, yang artinya mengelilingi pusat. Pusat yang dimaksud adalah istana kerajaan, dalam hal ini yang lebih spesifik adalah benteng kerajaan.

Sumber lain mengatakan bahwa “mubeng beteng” adalah tradisi Mataram Islam. Saat itu, 1 Suro 1580, Mataram tengah siaga karena bersiap menghadapi serangan Pajang. Para prajurit yang berjaga mengelilingi benteng secara rutin untuk menjaga kraton dari musuh. Agar tidak terkesan latihan militer, para prajurit ini melangkah dalam diam sambil membaca doa-doa dalam hati, agar diberi keselamatan.

Namun, apa sebenarnya makna dari kegiatan tahunan ini?

Sejarawan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Purwanto, tidak sama dengan masangin beringin kembar Jogja, mubeng beteng merupakan sarana untuk evaluasi terhadap segala perilaku atau perbuatan di tahun lalu. "Melalui perenungan diri dengan tirakat atau lelaku, masyarakat dapat melakukan evaluasi dan introspeksi diri, serta sadar bahwa manusia ada yang menghidupkan, yakni Tuhan," katanya.

Lampah Bisu Mubeng Beteng Kraton Yogyakarta

Tradisi melangkah dalam diam dimaksudkan agar masyarakat lebih bisa prihatin dan mawas diri dalam menghadapi tahun yang akan datang. Mawas diri diperlukan agar seseorang tidak terlalu berpuas atau menyesali tahun-tahun yang telah lalu, melainkan tetap berdoa dan menyerahkan pada Yang Maha Kuasa.

"Tapa bisu mubeng beteng itu untuk memeringati tahun baru Islam 1 Muharam atau 1 Suro bagi masyarakat Jawa. Tujuannya mengajak masyarakat untuk bersyukur kepada Tuhan, memohon keselamatan dan kesejahteraan," kata kerabat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Gunokadiningrat.

Selain merenung, ketika berjalan peserta kirab ini juga berdoa untuk keselamatan pribadi, keluarga, Yogyakarta dan Indonesia untuk tahun-tahun yang akan datang.

Meskipun dilangsungkan di kawasan benteng, namun ritual ini bukanlah kegiatan resmi dari keraton. Kegiatan ini dilakukan oleh abdi dalem keprajan dan punokawan, yang berusaha menjaga tradisi penuh makna berlangsung terus menerus.

Ketika melakukan ritual tersebut, peserta yang berasal dari abdi dalem dan punokawan mengenakan pakaian adat Jawa berwarna biru tua, tanpa keris, tanpa alas kaki, dan membawa sejumlah panji.

Kegiatan ini sama sekali tidak bersifat syirik atau menyekutukan Tuhan. Karena, dalam lampah bisu tersebut, para peserta tetap memanjatkan doa kepada Tuhan. Purwanto menegaskan, mubeng beteng hanya sarana agar manusia semakin memahami bahwa kehidupan ini sudah ada yang mengatur, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa.




loading...

0 comments:

Post a Comment